PADA DASARNYA PEGAWAI BIROKRASI TIDAK PUNYA RAKYAT II HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MEMILIH CALON WAKIL RAKYAT
| Oleh : Dude |
Sebentar lagi masyarakat Indonesia akan dihadapkan
dengan pesta demokrasi yang dilaksanakan 5 tahun sekali. Ini menunjukan bahwa setiap
penguasa atau orang yang telah dipilih sebagai pemimpin atau wakil rakyat akan
diunding kembali atau dengan kata lain apa yang telah ada akan diseleksi
kembali mengingat bahwa setiap orang memiliki persepsi “kepuasan” yang
berbeda-beda atas apa yang telah dilihat dan dirasakan oleh orang yang
diangakatnya sebagai pemimpin atau dalam hal ini adalah wakil rakyat. Tidak
bisa dipungkiri bahwa hak yang dimiliki oleh masyarakat untuk memilih juga
berbeda, tentu dalam hal ini siapa dan kenapa harus dipilih itulah yang akan
menjadi bahan pertimbangan tiap personal.
Banyak orang yang sering mengutarakan isi hatinya
terutama emak-emak dan kalangan akademisi yang kritis mengenai program kerja
yang dilakukan oleh wakil rakyat,misalnya saja apa sih yang akan dilakukan
ketika sudah terpilih sebagai wakil rakyat ?, apa yang bisa menjadi bukti atau
pegangan ketika sudah terpilih sebagai wakil rakyat?, prestasi apa saja yang
telah dicapai baik sebelum atau sesudah menjabat? Begitu juga ketika ingin memilih orang yang sudah pernah
menjabat sebagai birokrasi dengan pertanyaan mungkinkah kita akan memilih
kembali dia sebagai wakil rakyat dengan program kerja yang telah dilakukan
selama satu periode atau lebih?, apakah seimbang dengan masa jabatannya dengan
pekerjaan yang dilakukan selama menjabat?
mencari keungggulan dan keunikan dari para calon.
Tentu uraian inilah yang menjadi pertanyaan-pertanyaan dasar, pegangan serta
modal awal dalam menentukan pilihannya. Pun kemunculan pertanyaan di atas ada
bagi mereka yang memiliki rasa kecemasan, kekhawatiran serta keinginan akan
perubahan menujuh kesejahteraan sosial dengan akal budi yang lebih tinggi.
Hal di atas merupakan suatu keprihatin yang penting
untuk ditelaah bagi masyarakat agar orang-orang yang telah dipilih bisa sesuai
dengan harapan masyarakat pada umumnya yakni kesejahteraan dan keadilan yang
didapatkan bisa secara merata.
“Lebih Baik Memilihi Orang Luar Dari Pada Putera
Daerah Kita Sendiri”.
Kalimat di atas sering sekali kita dengar dalam kehidupan
sehari-hari terutama menjelang pesta demokrasi, biasanya yang sering juga kita
perhatikan adalah disaat ada calon yang ingin ke birokrasi tetapi gen-nya
berasal dari luar daerah. Pernyataan yang muncul di telinga adalah “kita coba
pilih mereka yang berada di luar daerah karena orang yang telah kita amanahkan untuk
menjadi wakil rakyat tidak sesuai dengan harapan, kesempatan yang telah kita
berikan selama satu periode atau lebih tidak digunakan dengan baik, yang
seharusnya kekurangan-kekurangan yang ada di wilayah kita harusnya di tutupi misalnya
air, listrik bahkan jaringan (daerah-daerah pelosok). Inilah kemudian yang
menjadi sorotan-sorotan para emak-emak yang merasa kesal dengan keadaan yang ada.
Sebagai seorang yang berpikir lurus kita tidak semestinya
marah jika ada ungkapan itu, kita tidak seharusnya mencaci maki apa yang telah
menjadi pikiran dia, kita tidak seharusya membenci dan menjauhi orang-orang
seperti itu, yang seharusnya ada pada jiwa pendengar adalah membenarkan terlebih
dahulu apa yang telah disampaikan. Jika mengambil pada satu verbatim dari seorang
pengamat politik yaitu Rocky Gerung “ketika emak-emak sudah berbicara
masalah urusan dapur maka itu adalah politik yang jujur karena itu adalah rahim
kehidupan”.
Penyataan-pernyataan yang disampaikan itu tidak hanya
didasarkan pada usianya sebagai emak-emak melainkan ungkapan hati yang dialami dan
dirasakan atas apa yang dilihat oleh orang yang telah diangkat sebagai wakil
rakyat. Ungkapan diatas tentu ada benarnya bagi penulis, kenapa? karena apa
yang harus diharapkan dari orang yang kita angkat sebagai wakil rakyat dengan
dasar putera daerah tetapi di ujung itu ia tidak mampu melihat dan membaca
keadaan masyarakatnya, apa yang harus dibanggakan dengan putera daerah jika
disaat kesempatan yang diberikan oleh masyarakat disia-siakan, jawaban apa yang
harus kita berikan jika ada pertanyaan diatas muncul bertubi-tubi? Tentu alasan
yang sering diungkapkan tanpa didasarkan dengan keadaan nyata adalah “bu, pak
tidak semua putera daerah memilki watak dan sifat seperti apa yang telah di
sampaikan tadi”. Atau juga ada jawaban yang ngesalin bahwa : “ sejelek-jeleknya
putera daerah mereka yang harus kita pertaruhkan, mereka yang harus kita dukung
untuk naik kursi”.
Seorang yang kritis tidak semestiya jawaban seperti itu ada pada mulut seorang yang berjiwa intelek. Bagaimana mungkin memberikan satu jawaban kepada mereka yang kapasitas berpikirnya jauh berbeda dengan anda, yang seharusnya diberikan satu uraian penting dan jelas malah kalimat yang tak bermutu dan bermakna itulah yang dijadikan wejangan. Emak-emak tidak membutuhkan janji tapi kepastian, emak-emak tidak membutuhkan iming-iming melainkan apa yang diinginkan bisa terwujud, emak-emak tidak membutuhkan kalimat-kalimat yang hanya menjadikan beban bagi mereka melainkan perwujudan itu harus ada pada mereka yang diangkat sebagai wakil rakyat dalam bentuk pembangunan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu upaya dalam hal ini membuat suatu parameter memfilter kembali pada calon birokrasi dengan beberapa kategori berikut :
1. Etikabilitas
Parameter yang pertama adalah etikabilitas yang mana secara moral dia bersih, baik sesudah maupun sebelum tidak pernah menipu emak-emak atau orang lain (Rocky Gerung). sikap-sikap yang ditampilkan dalam masyarakat merupakan sesuatu yang teladan dan mengindikasikan bahwa dia merupakan orang yang cocok dan tepat sebagai pejabat birokrasi, memiliki tindakan-tindakan yang mencerminkan public figure sebagai wakil rakyat. Seteleh yang pertama lulu di uji maka akan masuk pada tahap kedua yakni
2. Intelektualitas
Parameter yang kedua adalah intelektualitas. Merupakan hal yang penting untuk di filter sebagai seorang calon, karena ia tidak hanya duduk diam dikursi dengan jas dan cincin yang dipakai dengan harga yang tinggi tetapi kemampuan serta wawasan yang ada juga harus ada pada calon yang ada. Kita juga harus cek bahwa ia memiliki kualitas yang mumpuni untuk berargumentasi di forum-forum terbuka dengan perjabat-pejabat lain terlebih lagi kepada masyarakat. Dan yang berikutnya yang harus difilter adalah
3. Elektabilitas
Point ketiga ini dimaksudkan untuk menguji point yang pertama moral standingnya (etikabilitasnya), kemudian intelektualitasnya (Rocky Gerung). Ketiga ini akan mejadi salah satu acuan penting dalam memilihi dan memilah mereka yang ingin ke birokrasi. Ketika semua itu telah ada pada jiwa masyarakat dalam memlihat dan mengamati orang yang akan dijadikan sebagai orang birokrat maka tentu saja hal – hal yang di mungkinkan terjadi pada umumnya akan dirasakan dalam hal ini adalah kesejahteraan bagi semua kalangan masyarakat.
Ada hal juga yang tidak kalah penting untuk diperhatikan sebagai parameter dalam hal ini adalah sebagai berikut :
1. Mengerti Suara Rakyat
Hal pertama yang harus kita lihat adalah bagaimana seorang calon bisa mengerti suara rakyat yang meliputi : keluhan, keinginan, kebutuhan, serta hal-hal lain yang menyangkut tentang kemasyarakatan. Ada banyak calon yang ingin duduk di kursi birokrasi tetapi tidak sedikit orang yang bisa merealisasikan suara rakyat, mungkin bisa dimengerti tapi penafsiran yang dilakukan hanya sebatas dikursi dan akan dilakukan pembenahan kembali ketika pesta demokrasi akan menjelang.
Tidak bisa dipungkiri bahwasannya hal itu sering terjadi dan secara politik juga bisa dibenarkan tapi secara moral cacat. Yang kita butuhkan adalah bagaimana para pegawai birokrasi bisa bekerja sesuai dengan keadaaan wilayahnya ; maksudnya adalah kepekaan itu juga harus dimiliki termaksud suara-suara minor yang ada di pelosok. Kenapa bisa seperti itu ? karena pada dasarnya pegawai birokrasi tidak punya rakyat, tidak punya suara, mereka dipilih dan akan dipertaruhkan kembali jika pesta demokrasi mendatang tiba (Fahri Hamzah).
2. Tidak Money politic
Jangan pernah percaya dengan iming-iming memberikan kesejahteraan yang baik untuk masyarakat jika disaat menjelang pemilihan masih melakukan money politik masih dilakukan. Kita menginginkan agar orang -orang birokrasi setelah terpilih langsung bekerja untuk kemaslahatan umat bukan untuk bekerja dan mencari cara bagaimana uang yang telah diberikan kepada masyarakat waktu menjelang pemilihan bisa kembali terlebih dahulu ditangan mereka yang terpilih tadi. Jangan mau disogok 50 ribu hanya dengan semalam tapi akan hilang kesejaheraan di 5 tahun kedepan. Masyarakat harus cerdas dan pandai untuk memilihi yang terbaik orang dimasa mendatang. Ada banyak cara yang harus ditempuh untuk itu semua misalnya berdiskusi dengan mahasiswa, orang-orang kritis, pemuda yang kesemuanya itu tidak ada satu alasan kepentingan melainkan umat umat dan umat.
Tentu mungkin Sebagian dari kita akan mengatakan bahwa belum tentu orang yang tidak money politic tidak mengambil uang rakyat (korupsi) karena mereka manusia punya hawa nafsu. Bisa saja tetapi potensi itu kurang dibandingkan dengan mereka-mereke yang melakukan kegiatan money politik.
3. Dicalonkan Bukan Mencalonkan
Dicalonkan dan mencalonkan adalah dua hal yang berlainan dan berlawanan. Orang yang dicalonkan ini berarti diamanahkan, diamanahkan oleh siapa? Tentu dalam hal ini adalah dari masyarakat. Masyarakat tau siapa yang pantas untuk bekerja di wilayah birokrasi yang bisa menjaga kemurnian dari suara hati rakyat. Masyarakat tau yang harus dicalonkan adalah orang yang tepat dan pas karena melihat beberapa aspek yang telah disebutkan di atas.
Diamanahkan juga tentu akan menjadi hal yang murni karena gennya tidak mencari kekuasaan, atau mencari hidup di dunia itu, di amanahkan akan menghasilkan energi yang positif bagi semua orang karena yang maju adalah bukan orang yang mendahulukan hawa nafsunya melainkan verifikasi dari masyarakat.
Pun tidak salah jika mencalonkan karena itu juga haknya masing-masing. Yang bisa jadi mereka telah memperhitungkan dengan matang apa yang harus dan tidak seharusnya dilakukan ketika terpilih tentunya.
Kesemua itu harus memang betul-betul diperhatikan secara seksama agar harapan untuk membangun dan memajukan peradaban akan lebih ringan. Oleh karena itu saatnya masyarakat harus jeli dalam melihat ini, tidak sampai pada tahap ini persatuan juga harus tetap dijaga agar suara-suara yang telah ditentukan berdarkan parameter yang telah dibuat bisa terelasikan
Termikasih..Semoga bermanfaat!!
Comments
Post a Comment